upperads

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

POLITIKAL NEWS

Business

Technology

KRIMINALITAS

ANTI KORUPTOR

Sports

POROS KALTENG

Mbah Marijan Dikenang Media Internasional

KEPERGIAN juru kunci Gunung Merapi, Mbah Marijan, tak hanya menghiasi halaman depan media di Indonesia tapi juga internasional. Bahkan beberapa media luar negeri mengangkat kisah pemilik nama Raden Mas Panewu Surakso Hargo itu dalam liputan khusus.

Channel NewsAsia (CNA) misalnya, menurunkan liputan khusus tentang dokumentasi Mbah Marijan dengan durasi cukup panjang. CNA memasukkan wawancara dengan abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu, termasuk kiprahnya saat menjalankan upacara labuhan di Sri Manganti dan Kendit, dua tempat yang tak seberapa jauh dari pucak Merapi yang dikeramatkan dan menjadi lokasi upacara.

CNA bahkan memuji loyalitas Marijan. Dalam closing dokumenter itu, CNA membuat catatan tentang Marijan. "Kepergiannya dalam posisi bersujud, menunjukkan dedikasi dan loyalitas mengemban amanah," tulis CNA.

Jaringan televisi CNN juga memberi porsi cukup lama tentang kepergian Mbah Marijan. Dalam dokumenter berdurasi hampir tiga menitan, CNN menurunkan laporan tentang loyalitas Marijan yang kepergiannya membuat ribuan orang berduka.

Bahkan CNN menjadikan kepergian Mbah Marijan itu sebagai bagian dari berita utama dengan judul berita Twin Disasters.

Rata-rata, media internasional menyebut sosok Marijan dalam beragam sebutan. Ada yang menyebutnya dengan nama gatekeeper, ada pula yang menyebutnya spiritkeeper.

Sedangkan harian The Independent mengutip ucapan Mbah Marijan sebagai judul; 'It's better for me to just stay here and pray' (Lebih baik bagiku untuk tetap di sini dan berdoa).

Memang akhirnya Mbah Marijan meninggal dunia akibat awan panas yang lebih dikenalnya dengan sebutan wedus gembel. Namun nama Mbah Marijan dan kematiannya dalam posisi sujud, ternyata malah membuat namanya melambung di dunia internasional. sumber : jpnn.com

Setelah Merapi, Waspadai Delapan Gunung Lainnya

Anak Gunung Krakatau
Petang itu, Selasa 26 Oktober 2010 pukul 17.02 Waktu Indonesia Barat, Merapi memuntahkan awan panasnya. Gunung itu mulai memuntahkan awan panas mematikan, ‘wedus gembel’, lalu sesaat kemudian, segumpal asap setinggi 1,5 kilometer terbang ke langit dari dalam kawah.

Dalam kondisi gelap gulita karena listrik mati, warga yang panik berusaha menyelamatkan diri. Teriakan dan perintah mengungsi beradu dengan suara sirine yang berpekik meraung.

Tak semua warga selamat, letusan Merapi merenggut 35 jiwa, termasuk sang kuncen, Mbah Maridjan, juga sahabat wartawan, Redaktur VIVAnews.com, Yuniawan Wahyu Nugroho.

Wedus gembel juga menerjang pohon, bangunan dan hewan ternak. Kampung Mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, porak poranda dikubur abu panas. Dan abu tebal itu membuat segalanya nampak putih kecoklatan.

Nyaris semua bangunan hancur, kecuali masjid kampung yang masih berdiri tegak meski tak lagi utuh.

Letusan sudah usai, namun Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, mengingatkan agar semua pihak terutama masyarakat sekitar gunung Merapi Yogyakarta senantiasa siaga.

Meski terlihat tenang, sejatinya ancaman Merapi masih mengintai. "Diamnya ini ada apa, apakah mengumpulkan tenaga lagi, belum kita ketahui. Kita tidak boleh lengah, bencana justru terjadi karena kita lengah, kata Surono seperti dikutif dari VIVAnews, Rabu 27 Oktober 2010.

Soal Merapi, para pengamat gunung berapi memang berpacu dengan waktu. Proses menuju erupsi terhitung sangat cepat. Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mencatat, perubahan status dari Normal menjadi Waspada terjadi pada tanggal 20 September 2010.

Sebulan kemudian, pada 21 Oktober 2010, statusnya berubah menjadi Siaga, dan kemudian menjadi Awas – level tertinggi—empat hari kemudian pada 25 Oktober 2010, hanya sehari sebelum Merapi ‘batuk’.

Waspada delapan gunung
Merapi adalah satu dari gunung berapi di negeri ini yang paling sering "batuk". Para ahli gunung berapi mengelompokannya dalam gunung berapi yang sering meletup itu dalam kategori A. Sedang gunung berapi yang tidak aktif dikelompokan dalam gunung kategori B.

Sejumlah gunung berapi tipe A itulah yang selama ini diawasi oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Dengan meletusnya Gunung Sinabung yang masuk kategori B, Minggu 29 Agustus lalu, maka pemerintah juga sudah mewaspadai gunung kategori B.

Dan kini delapan gunung kategori A, sudah masuk dalam tahap waspada. Gunung-gunung itu adalah Sinabung, Gunung Talang, Gunung Anak Krakatau, Gunung Papandayan, Gunung Slamet, Gunung Dieng, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo.

Ada satu gunung lagi yang lebih tinggi levelnya yakni Gunung Karangetang di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara. Gunung ini berstatus Siaga. Gunung ini pernah meletus pada Jumat 6 Agustus 2010. Merapi, Karangetang dan 8 delapan gunung itu, kini dipantau ketat pemerintah.

Selain dipantau ketat, warga di sekitar juga bersiaga, sebab aktivitas gunung-gunung itu sulit diprediksi. “Status waspada kita berikan karena kawah gunung tidak dalam kondisi aman untuk didekati,” kata Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Api Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Geologi Kementerian ESDM, Agus Budianto, dikutif dari situs VIVAnews.com, Jumat 29 Oktober 2010.

Gunung Anak Krakatau, semenjak 2007 kerap mengeluarkan lava pijar, walau volumenya masih rendah. Letusan kecil juga sering terjadi. Untuk sementara, jika letusan masih kecil, tidak berbahaya. Sebab, kata Agus, "Pemukiman terdekat jaraknya sekitar 46 kilometer."

Gunung yang belakangan juga sering "batuk" adalah Semeru di Jawa Timur. Semeru kini giat membangun kubah lava, yang terkadang diikuti guguran lava pijar dan hujan abu.

"Ini masih mirip-mirip Merapi sedikit. Bedanya, kalau model Merapi, kita jarang melihat aktivitas letusan terus menerus. Kalau Semeru sering, tetapi tidak berbahaya," katanya.

Agus menambahkan bahwa jika dilihat dari aktivitas tremor, trennya memang meningkat. Tapi masih dalam status waspada. Untuk itulah warga diminta menjauh dari puncak Semeru.

Pemerintah Jawa Timur tak mau kecolongan. Kini mereka bersiaga menghadapi segala kemungkinan terburuk – pasca meletusnya Merapi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Jawa Timur, sudah melakukan sejumlah langkah.

"Kami sudah sosialisasikan kepada masyarakat soal status Waspada sehingga diharapkan tidak ada korban," kata Kepala BPBD Jatim, Siswanto, Kamis 28 Oktober 2010. Sarana dan prasarana disiapkan, misalnya, pusat informasi bencana, lokasi penampungan, puskesmas, angkutan evakluasi, juga masker.

Bumi bergerak
Memang tak ada kaitan antara letusan Gunung Merapi dengan peningkatan aktivitas delapan gunung itu. Namun, menurut Agus Budianto, dinamika bumi bisa membuat gunung-gunung itu saling terkait.

Bumi yang kita huni ini terus bergerak. Dan pergerakan itu, kata Agus, tidak bisa diprediksi, tapi bisa saja membuat meningkatkan aktivitas gunung-gunung itu secara bersamaan. Agus menegaskan bahwa, "Konsekuensi pergerakan lempengan dan gempa tektonik bisa memicu letusan gunung berapi."

Analisa yang sama juga disampaikan Surono. Gempa bumi tektonik bisa merangsang letusan gunung berapi. Batavia, yang kini bernama Jakarta, pernah babak belur dihajar gempa. Dua diantaranya terjadi tahun 1699 dan tahun 1883. Gempa tahun 1699 diikuti letusan Gunung Salak. Gempa tahun 1883 diikuti amukan Krakatau.

"Kalau gempa vulkanik tidak merusak, sebab, maksimal kekuatannya 2 skala Richter," kata Surono, Senin 26 Juli 2010 malam. Misal meletusnya Gunung Talang dipicu gempa Mentawai 2004.

Indonesia adalah negeri kaya sumber daya alam. Jumlah tenaga geothermal atau panas bumi negeri merupakan 40 persen dari yang ada di seluruh dunia. Tapi resikonya juga besar. Berdiri di jalur lingkaran "cincin api" atau ring of fire membuat negeri ini jadi langganan bencana. Dari gempa hingga letusan gunung.

Pelesir DPR Miliaran Rupiah di Kala Bencana

Wilayah Indonesia dilanda bencana alam silih berganti dalam sebulan terakhir. Mulai dari banjir bandang di Wasior, Papua Barat, kemudian tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Seolah masih ingin menguji lagi, bencana letusan Gunung Merapi pun meluluhlantakkan rumah-rumah di sekitarnya.

Bencana alam ini memakan jumlah korban yang tak sedikit, Wasior 101 orang tewas. Merapi 35 orang meninggal. Sedangkan, di Mentawai hingga Jumat kemarin, lebih dari 400 orang tewas akibat petaka selama 15 menit tersebut.

Ironisnya, di tengah rentetan bencana yang mengharubiru, kabar tak sedap malah datang dari gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Wakil rakyat justru susul menyusul terbang ke luar negeri.

Setidaknya ada lima rombongan DPR yang berangkat ke mancanegara. Salah satunya dari Komisi II yang juga membidangi pemerintahan. Komisi II akan berangkat ke India dan China untuk studi banding tentang kependudukan.

"Rencananya, rombongan ke China dan India berangkat pada 1 (November 2010)," kata Ketua Komisi II Chairuman Harahap.

Komisi II yang terbang ke China dan India terbagi dalam dua rombongan. Mereka akan mempelajari tentang sistem administrasi kependudukan di dua negara padat penduduk itu. Menurut jadwal di Sekretariat Jenderal DPR, keberangkatan ke China pada 1 November, sedangkan ke India pada 9 November 2010 ini.

Selain Komisi II, Komisi V juga terbang ke Italia. Agenda utama mereka dalam rangka penyusunan Rancangan Undang-Undang (RUU) Rumah Susun. Anggota Komisi V yang terbang ke Italia yakni empat orang dari Fraksi Demokrat: Rustanto Wahid, Usmawarni Peter, Sutarip Tulis Widodo dan Zulkifli Anwar.

Kemudian Tiga orang dari Fraksi Golkar: Riswan Tony, Eko Sarjono Putro, dan Roem Kono. Dua dari Fraksi PDIP: Irfansyah dan Sadar Estuati. Dua orang dari Fraksi PAN: Yasti Soepredjo Mokoagow dan Ahmad Bakri. Serta masing-masing satu orang dari Chairul Anwar (FPKS), Epyardi Asda (F-PPP), Imam Nachrowi (F-KB), dan Gunadi Ibrahim (F-Gerindra).

Selanjutnya, Komisi XI, khususnya Panitia Khusus Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rombongan ini akan terbang ke empat negara, Inggris, Perancis, Jepang, dan Korea. Studi banding ini akan menghabiskan dana sekitar Rp1,7 miliar.

Ketua Pansus OJK, Nusron Wahid, mengatakan, dana sebesar itu diperuntukkan bagi 30 anggota Pansus OJK. "Tim akan dibagi dua kelompok, yakni 15 orang ke Jerman dan 15 orang ke Korsel," kata Nusron. Perjalanan dinas itu akan berlangsung sejak 30 Oktober hingga 6 November 2010. Masing-masing anggota Pansus diperkirakan menghabiskan dana antara Rp50-60 juta.

Rombongan berikutnya: rombongan dari Badan Kehormatan (BK) DPR yang akan belajar tentang kode etik ke Yunani. Tujuan di atas kertas, untuk menyempurnakan tata tertib dan kode etik anggota dewan.

Namun, Ketua BK dari F-PDIP Gayus Lumbuun dan Tri Tamtomo menolak untuk ikut. Mereka menilai kunjungan kerja ini tidak perlu dan bisa dilakukan dengan mencari informasi di dunia maya.

Terakhir, rombongan Badan Legislasi (Baleg) DPR yang akan ke Belanda. Di negeri Kincir Angin ini, DPR ingin mempelajari soal badan bantuan hukum bagi rakyat miskin. Keperluannya, untuk pembahasan RUU Badan Hukum.

Biaya semua kunjungan itu, jauh melampaui harga sebuah menara early warning system di wilayah bencana. Di pasar Tiku, Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat, berdiri tegak sebuah menara sirene, yang akan secara otomatis menjerit bila ada gempa di lautan yang menimbulkan tsunami.

Sejumlah wilayah di Sumbar memiliki menara seperti ini. Tapi karena harganya mahal, alat penting ini malah tak dibangun di episentrum gempa besar, Kepulauan Mentawai. Warga di kepulauan ini harus puas dengan mengandalkan lonceng gereja yang tak terdengar saat hujan deras, seperti yang terjadi 25 Oktober lalu.

Mereka yang Membatalkan
Kritik pedas dari masyarakat dengan kunjungan wakil rakyat ke luar negeri membuat kuping sejumlah anggota DPR panas. Beberapa diantaranya pun mendengar aspirasi rakyat dan membatalkan perjalanan.

Pertama yang membatalkan rencana ke luar negeri adalah Komisi II DPR akhirnya menunda kunjungan ke China pada 1 November 2010. Sementara, kunjungan yang ke India yang dijadwalkan 8 November 2010 belum ada perubahan.

"Yang ke India belum diputuskan karena berangkatnya tanggal 8 November 2010," kata Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap.

Menurut dia, pembatalan itu untuk menunjukkan empati pada korban bencana. Apalagi, Indonesia sedang mengalami rentetan bencana alam. Mulai dari banjir bandang Wasior sampai yang terakhir, Merapi.

Kemudian, Baleg DPR juga ikut membatalkan kunjungannya ke Belanda yang semula untuk kepentingan pembahasan RUU. Ketua Baleg Ignatius Mulyono menjelaskan rencana ini menjadi tidak pasti karena sampai sekarang belum ada jawaban dari Belanda soal permintaan kunjungan anggota DPR ini. Rencana semula, kunjungan Baleg akan dilakukan 8 November mendatang.

Faktor kedua, kata Ignatius, DPR juga ingin memberi perhatian kritik masyarakat soal kondisi negara yang terus dilanda bencana alam. "Soal lain, kami akan melakukan penghematan," kata dia.

Sekarang, publik masih menunggu, siapa anggota dewan berikutnya yang membatalkan kunjungan luar negerinya? sumber : vivanews.com

Ditemukan Uang Senilai Rp81 Miliar Tak Bertuan dalam Drum

web
San Salvador - Ini benar-benar langka terjadi. Polisi di El Salvador dilaporkan menemukan uang kontan tak bertuan senilai US$9 juta atau sekitar Rp81 miliar yang disimpan di sebuah drum plastik.

Penemuan uang itu, Kamis (2/9) lalu, di sebuah areal pertanian di kota Penitente Abajo, yang berjarak 62 kilometer dari ibu kota San Salvador. Tidak lama kemudian polisi menemukan drum kedua yang juga berisi uang kontan. Polisi masih menghitung nilai uang di drum kedua tersebut.

Di drum pertama, uang jutaan dolar ditemukan dalam pecahan $100, $50, dan $20. Perlu waktu tiga hari untuk menghitungnya.

"Mungkin masih ada uang lain yang belum ditemukan. Semuanya akan kami selidiki," kata Carlos Ascencio, seorang pejabat polisi seperti dilaporkan kantor berita Associated Press, dikutip dari Inilah.com, Selasa (7/9). Aparat penegak hukum meyakini uang kontan ini milik kelompok penyelundup narkoba.

Kantor kejaksaan agung mengatakan warga melaporkan tindakan mencurigakan di lokasi kejadian. Kedutaan besar Amerika Serikat di San Salvador mengatakan penemuan uang kontan jutaan dolar ini atas bantuan aparat penegak hukum Amerika.

Ramadhan atau tidak Ramadhan, kita sudah mati kelaparan

Photo: Ishtiaq Mahsud / AP
"Ramadhan atau tidak Ramadhan, kita sudah mati kelaparan."

Demikian seorang wanita di sebuah tenda di luar Sukkur, Pakistan. Wanita tersebut merupakan salah satu dari korban banjir di Pakistan yang menelan korban jiwa ribuah orang.

Para korban banjir yang saat ini mulai kehabisan bahan makanan dan air bersih itu, mulai berpuasa Ramadhan pada hari Kamis (13/8), waktu setempat.

Stasiun Televisi Jerman Tayangkan Kegiatan Puasa Ramadan

web
Suarapublic.co.cc, Munich - Kegiatan muslim selama bulan Ramadhan menjadi hal tabu bagi warg non-muslim Jerman. Namun RTL2, sebuah stasiun televisi di Jerman, akan merubah hal itu tahun ini.

RTL2 menyiarkan bagian awal dan akhir masa puasa setiap hari selama bulan suci Ramadan. Carsten Molis, Kepala Pemasaran televisi tersebut mengatakan ingin mempromosikan integrasi dan membuat para pemirsa non Muslim peka terhadap hal itu.

"Orang boleh berteori banyak soal integrasi, namun kami hanya ingin menyampaikan sinyal tegas sekali ini saja," kata Molis, belum lama berselang. Bukan cuma Ramadan, Molis juga memberlakukan hal yang sama terhadap perayaan Paskah dan Natal. Ia menyatakan ingin menghormati kaum muslim.

Menurutnya, stasiun televisinya yang berbasis di Kota Munich, ingin menggugah kepekaan pemirsa non-muslim terhadap masalah yang praktis tidak pernah ada dalam tayangan televisi Jerman.

"Banyak dari empat juta penduduk muslim di seluruh Jerman yang menonton tayangan-tayangan RTL2," kata Molis.

Busana Tertutup Tetap Gaya

ilustrasi (web)
Suarapublic.co.cc, Teheran - Menyandang status sebagai negara Islam, kaum perempuan di Iran dilarang tampil dengan pakaian terbuka di depan umum. Menggunakan syal atau kerudung, wajib hukumnya jika tengah berada di ruang publik. Sekalipun tertutup dari rambut hingga kaki, para wanita di Iran tetap terlihat gaya.

Dari sebuah ruang kerja, Shadi Parand salah satu merek ternama di dunia mode Iran, belum lama ini menghasilkan karyanya. Berbagai bahan kain di rumah mode ini, dijahit tangan, dilukis, lalu dipasangi aksesori secara manual, untuk menghasilkan busana muslim yang sesuai tradisi Iran, namun tetap berkesan modern.

Namun, bagi sebagian besar wanita muda Iran, gaya lain lebih menarik. Misalnya yang terinspirasi dari busana gaya Barat, kaus dan celana panjang yang dilengkapi syal.

Tunik panjang dengan kerudung, atau jeans dan jaket atau hood jacket, yang bisa jadi alternatif kerudung juga diminati wanita muda di Iran sebagai pilihan berbusana.

Liputan Khusus Dalam Rangka HUT Barito Utara (Barut) ke-60 Tahun

  • Perjalanan Kabupaten Barut Menuju Kota Modern 
Juli 2010, Kabupaten Barito Utara (Barut) yang punya luas wilayah 8.300 KM2 / 830.000 hektar genap berusia 60 tahun. Mengambil momen peringatan hari jadi (HUT) Barut itu pula, kami media digital SUARAPUBLICNews mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat luas tentang bagaimana dulu dan seperti apa kondisi Barut saat ini.

Muara Teweh, ibukota Kabupaten Barut dari udara. (Humas Barut)
Tulisan diterbitkan secara Liputan Khusus (Lipsus). Namun jujur, sedikitpun tak ada tendensi dari kami baik dengan pihak manapun, terkait materi kami sajikan. Hanya harapan kami semoga bermanfaat bagi semua, khususnya bagi pihak atau pejabat terkait.

Berikut Lipsus seputar program terealisasi, dalam proses penyelesaian maupun masih perencanaan yang dihimpun berdasarkan fakta lapangan, hasil wancara dengan masyarakat dan hasil konfirmasi dengan pejabat terkait dalam acara jumpa pers Bupati Barut di Runjab, belum lama ini.

Pendapat banyak pihak, kemajuan pembangunan Barut dalam kurun lima tahun belakangan ini tak terlepas dari berkat keja keras seorang Insiyur Kehutanan Alumnus Unlam Banjarmasin, H Achmad Yuliansyah MM. Berkat sentuhan dingin tangan mantan Kadishut Barsel itulah, kini Barut dinilai berhasil hampir disemua bidang pembangunan.