upperads

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

POLITIKAL NEWS

Business

Technology

KRIMINALITAS

ANTI KORUPTOR

Sports

POROS KALTENG

Jangan Larang Polwan Berjilbab

JAKARTA - Anggota Komisi III DPR, Eva Kusuma Sundari mengatakan, sudah ada Surat Edaran Kapolri (Sekap) terkait seragam personil kepolisian. Namun untuk jilbab biar menjadi urusan pribadi.
Karena berjilbab juga masuk kategori urusan pribadi maka jilbab jangan dilarang. "Soal giwang, bedak, aksesori termasuk jilbab biar urusan sendiri-sendirilah enggak usah dilarang," kata Eva saat dihubungi, Minggu (16/6).

Politikus PDI Perjuangan itu menerangkan, selama ini hal tersebut bisa dinegosiasi. Bahkan polisi wanita (Polwan) di Aceh dan yang sepuh bisa memakai jilbab.

Eva menyatakan, Sekap dalam pelaksanaannya harus fleksibel sesuai dengan hak asasi manusia yang dimiliki Polwan. "Polri bertugas menjaga HAM baik ke dalam maupun ke luar, supaya lembaga tersebut legitimate," terangnya.

Eva mengaku setuju jika Polwan berjilbab. Sebab mereka juga memiliki kebebasan untuk memilih. "Setuju aja. Polwan kan juga boleh memilih," pungkasnya.

Ganja Berpotensi Mencegah Kerusakan Otak

GANJA adalah tanaman narkotika yang manfaat dan efek buruknya masih menjadi kontroversi. Di tengah perdebatan baik buruknya ganja bagi kesehatan, penelitian ilmiah mengenai kandungan aktif zat ini terus berkembang.

Salah satu yang terbaru adalah potensi ganja sebagai obat masa depan yang dapat mengembalikan fungsi otak manusia setelah mengalami cedera atau trauma. Sebuah penelitian kecil menggunakan hewan di laboratorium mengindikasikan, ganja memiliki efek neuroprotektif  Beberapa riset juga menyebutkan bahwa kandungan aktif dalam ganja diduga dapat melindungi otak dari penyakit degeneratif saraf seperti sklerosis, alzheimer, huntington dan parkinson.

Para ahli dari Adelson Center  for Biology of Addictive Diseases di Tel Aviv University Israel mencoba mengeksplorasi khasiat kandungan utama ganja. Mereka berteori bahwa dosis ekstra rendah tetrahydrocannabinol (THC) dapat memicu kerusakan kecil pada otak, yang sebenarnya merupakan upaya 'prekondisi' dalam mengantisipasi kerusakan yang lebih serius akibat beragam penyebab, misalnya karena kekurangan oksigen, terbentur, atau paparan racun dan obat-obatan.

"Dalam kondisi ini, ganja seperti halnya vaksin. Dia melukai sebelum menyediakan pertahanan untuk luka traumatik," kata Dr. Yosef Sarne, salah seorang peneliti.

Pada jurnalnya yang dipublikasikan dalam Behavioural Brain Research dan Experimental Brain Research, Sarne menyuntikkan THC pada tikus. Setiap tikus disuntik THC dengan dosis seribu sampai 10 ribu kali lebih rendah dibanding yang biasa ditemukan. Tikus ini kemudian direkayasa untuk menghadapi trauma pada otak beberapa hari kemudian.

Menurut peneliti, penyuntikan THC dapat merangsang proses biokimia dalam otak. Proses ini melindungi sel dan fungsi kognitif otak.  Tikus dengan THC juga menunjukkan memori yang lebih baik dalam tes yang dilakukan 3 sampai 7 minggu setelah mengalami trauma otak. Tikus-tikus ini juga menunjukkan kenaikan kadar zat kimia neuroprotektif yang lebih tinggi dibanding kelompok lain.

Pada tes laboratorium, THC dapat mempengaruhi sinyal antar sel.  Sinyal ini mencegah sel dari risiko kematian dan merangsang pertumbuhannya. "Kami yakin dalam prosesnya THC dalam ganja, akan berefek sama pada manusia. Walau begitu, penggunaan ganja pada manusia masih perlu diteliti," kata Sarne.



Raksasa Laut Dalam Misterius Tertangkap Kamera

IKAN dayung raksasa (Regalecus glesne) atau oarfish, yang selama ini misterius karena jarang dijumpai dalam kondisi hidup, kini berhasil direkam kamera di habitat aslinya.
Pakar biologi kelautan dari Lousiana State University, salah satunya Mark C Benfield, berhasil menangkap gambar ikan itu dengan kamera lewat kerja sama dari perusahaan pengeboran minyak lepas pantai di wilayah Teluk Meksiko.

Diberitakan Daily Mail, Minggu (9/6/2013), dengan peralatan perusahaan tersebut, ilmuwan berhasil mengobservasi ikan dayung lima kali selama observasi dari tahun 2008 hingga 2011. 


Ikan dayung raksasa pertama kali dijumpai pada tahun 1772 oleh biolog asal Norwegia, Peter Ascanicus. Spesies ini juga disebut ikan raja herring, ikan dayung Pasifik, atau ikan pita. Bentuk ikan ini memang seperti pita, panjang dan ramping.
Ikan dayung yang direkam dalam video kali ini punya panjang 2,44 meter. Ikan dayung terpanjang yang pernah dijumpai punya panjang hampir 8 meter.

Seperti spesies cumi-cumi raksasa, ikan dayung raksasa juga banyak menginspirasi cerita tentang monster laut. Ilmuwan percaya, panjang spesies ini bisa mencapai 15,24 meter dengan berat 272 kg.

Ikan dayung jarang dijumpai hidup-hidup karena hidup di laut dalam pada kedalaman 200 meter hingga 1 km.  


Tertangkapnya wujud ikan dayung lewat proyek SERPENT ini adalah sebuah keberhasilan. Hingga saat ini, tak banyak yang diketahui tentang fauna laut ini. Kebanyakan studi dilakukan saat ikan langka ini terdampar di pantai dan mati atau sekarat.
Oktober lalu, ikan dayung terdampar di wilayah Cabo San Lucas, panjangnya mencapai 4,5 meter.

Tahun 2006, ikan dayung lain juga terdampar di Santa Catalina Island, California. Doug Oudin, seorang harbormaster, berhasil menyelam bersama ikan dayung itu sebelum ikan mati. Ia mengungkap bahwa ikan dayung berwarna perak metalik dengan bintik berwarna biru kecoklatan.

Ikan dayung juga diketahui merupakan ikan buta. Ini wajar karena ikan ini hidup di laut dalam yang gelap gulita.

Ikan dayung raksasa juga pernah terdampar pada tahun 1901 di Newport Beach, California, memiliki panjang 6,7 meter. Ikan ini bergerak dengan meliukkan siripnya, sementara tubuhnya tetap lurus dan tak bergerak.

Keberhasilan ilmuwan menangkap ikan dayung hidup-hidup dan studinya dipublikasikan di Journal of Fish Biology


Sumber : Daily Mail

Ketika Istri Muda Minta Status Disamakan

PERGURUAN tinggi minta status disamakan, itu lumrah. Tapi di Sumbar, Ny. Halida, 24, demo dengan bawa pecahan botol ke depan suaminya, minta status disamakan seperti istri tua. Ny. Haidar, 35,  sebagai istri perdana tentu saja tak merelakan, tapi malah ditusuk pecahan botol itu sampai kritis.

Yang namanya istri muda, biasanya hanya kuwat di aurat tapi tak lemah di surat. Maksudnya, dia dinikahi suami sekedar untuk memanjakan syahwat. Tapi soal dokumen pernikahan, banyak tak memiliki lantaran tak didaftarkan ke KUA alias hanya nikah siri. Padahal nikah siri itu tak ubahnya SIM sementara untuk sebuah kendaraan. Sudah bisa “dinaiki” dan takkan disemprit polisi, tapi tak boleh dibawa jauh-jauh.

Adalah Safrizal, 40, karyawan toko martabak di di Jalan M Yamin Kelurahan Belakangtangsi, kota Padang. Meski gajinya tak seberapa besar, tapi dengan pede-nya dia memelihara dua istri sekaligus. Haidar dinikahinya 10 tahun lalu dan dari hasil kerjasama nirlaba itu telah lahir beberapa anak. Meski penghasilan hanya pas-pasan, sangatlah bahagia pasangan itu.

Tapi seperti lazimnya lelaki di mana saja, suka bosan dengan obyek yang itu-itu saja. Safrizal demikian juga. Mengarungi kehidupan rumahtangga dengan isri yang itu-itu saja, rupanya dia terjebak pada rasa jenuh. Apa lagi semenjak beberapa anak lahir, Haidar tak lagi mau mengurus tubuhnya. Pantat turun, payudara juga turun, tapi Haidar tak mencoba bersolek diri bagaiamana agar bisa pulih kembali. 

“Memangnya mobil, kalau turun bisa dinaikkan pakai dongkrak,” tangkis Haidar manakala dikritik suami.

Di kala Safrizal dilanda kejenuhan rumahtangga, hadirlah gadis Halida yang cantik dan menggemaskan. Dia awalnya hanya pelanggan toko kue martabak itu. Tapi karena pegawai toko martabak itu ahli merayu, akhirnya “martabak” Halida kena juga oleh Safrizal. Dan kala itu, lantaran sudah kadung demen, meski hanya dinikah siri tanpa lewat KUA, Halida mau saja. Yang penting dapat jaminan sama selaku istri.

Awalnya Safrizal bisa mematuhi konsensus tersebut. Tapi setelah sekian lama jadi suami istri, lama-lama pegawai toko martabak ini kembali ke penyakit lama, bosan pada istri keduanya. Sehingga ibaratnya motor, sudah jarang dikendarai, paling main klakson saja, tet tot tet tot….. Paling parah, uang bulanan yang biasanya diterima setiap bulan, kini juga jarang-jarang diterima. Kasihan sungguh Halida kini, tak ada bonggol tiada pula bonggol.

Merasa haknya sebagai istri sudah tak diperhatikan, beberapa hari lalu dia nekad mendatangi tempat kerja Safrizal. Kebetulan pula di sana pas ada Haidar istri tua. Halida pun protes di depan khalayak, minta statusnya disamakan, macam perguruan tinggi saja. Di samping jaminan hidup diberikan secara ajeg, dia juga minta dikawin resmi di depan KUA. “Jadi kalau uda (kakak) ndak ada (mati), nasib aku dan anakku jelas,” tuntut Halida.

Tapi Safrizal tak bisa memberi reaksi cepat, malah bingung macam pemerintah menghadapi dilemma kenaikan harga BBM. Haidar pun ambil alih persoalan, tapi malah dilawan oleh Halida. Ributlah mereka. Saking kalapnya sang istri muda, wanita itu lalu memecahkan botol bir, lalu dipakai senjata melawan Haidar. 

Sekali sambar, leher istri tua terluka oleh pecahan botol. Kini dia dilarikan ke RSUP M Jamil, sedangkan Halida warga Banuaran, Lubukbegalung itu ditangkap. “Saya tak bermaksud membunuh maduku, hanya emosi sesaat,” katanya.

Meski sesaat. Jika sial nyawa bisa lewat. (Poskotanews.com)

Pasien Wanita Telentang Depan Dokter Kan Biasa

DALAM dunia medis, pasien wanita telentang di depan dokter kan biasa. Tapi di Riau, dokter Ilham, 40, spesialis akupuntur itu digerebek gara-gara menelentangi pasien Ny. Rohaini, 29. Keluarga dokter bersikukuh bahwa wanita itu memang WIL Ilham, dan di kamar praktek tersebut mereka hendak berbuat mesum.

Dokter “meraba-raba” pasien memang sudah hal lumrah, karena itu tindakan untuk mendeteksi penyakit pasien. Sepanjang rabaan-rabaan tersebut masih proporsional dan wajar, pasien akan memaklumi. Kecuali pasien memang naksir pada si dokter, sehingga rabaan-rabaan yang menjurus itu malah dinikmati. Tapi cara kerja yang demikian pasti tak pernah direkomendasikan oleh pihak IDI (Ikatan Dokter Indonesia).

Bagaimana dengan dokter Ilham dari Kelurahan Bagan Batu Kota, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir ini? Sebetulnya tindakannya di ruang praktek masih biasa dan standar. Tapi karena keluarga istri dokter mencurigai bahwa Ilham punya pasien yang sekaligus WIL, begitu Rohaini ditelentangkan di kamar praktek, pikirannya jadu macem-macem dan digerebeklah pasien dan dokter tersebut.

Rumahtangga dokter Ilham memang sedang dilanda kemelut, karena sang istri, Aida, 36, mencurigai suaminya yang ahli akupuntur itu punya WIL yang awalnya merupakan pasien sendiri. Yang terjadi kemudian –setidaknya menurut kecurigaan Aida- dokter Ilham tak hanya praktek tusuk jarum di tubuh pasien Rohaini, tapi wanita itu “ditusuk” juga dengan jarum yang lain, yang tidak hanya sekali pakai pula.

Tapi Ilham membantah atas tuduhan bininya dan menegaskan bahwa Rohaini tak lebih pasien biasa, yang tidak ada udang di balik batu, apa  lagi kutang di balik bajunya. Semuanya lurus-lurus saja, hubungan antara pasien dan dokter. Rupanya sang istri tidak puas, sehingga malah mendelegasikan agar dokter Ilham diwaspadai dan dipantau sampai ke kamar prakteknya.

Orang-orang kaki tangan keluarga dokter Ilham mulai berbuat macam penyidik KPK saja, sehingga gerak-gerik pak dokter selalu dipantau, hanya belum disadap saja HP-nya. Sampailah kemudian pada kejadian beberapa hari lalu. Ny. Rohaini yang dicurigai jadi WIL pak dokter datang berobat.

Begitu tiba sampai giliran pemeriksaan Rohaini, para mata-mata itu mulai mengintip dari balik jendela. Setelah ditanya ini itu di meja pasien, wanita tersebut lalu disuruh teletang di ranjang tempat periksa. Para pengintip tak sabar lagi, sehingga mengerahkan orang untuk menggerebeknya. Puluhan orang masuk ruang praktek, dan mengintimidasi Ny. Rohaini. Wanita itu disobek-sobek bajunya, sehingga nyaris telanjang.

Yakin bahwa dokter dan pasiennya telah berbuat mesum, keduanya dibawa ke Polsek Bagan Sinembah. Paling kasihan Rohaini, karena baju penutup tubuhnya hancur disobek-sobek, dia terpaksa hanya berselimutkan terpal alas tempat tidur pasien. Karena tak ditemukan bukti perselingkuhan tersebut, laporan tak diteruskan alias damai.

Memangnya orang selingkuh musti telentang? (Poskotanews.com)

Asmara Maut Bu Guru PAUD



TEGA BENAR Bu Guru Nurul, 32, ini. Sementara suami jualan bakso di Pekanbaru, dia di Wonogiri malah punya gendakan. Paling menyakitkan bagi Hasto, 37, suaminya; saat pulang kampung justru mendapatkan istrinya yang guru PAUD sedang hyang-hyangan dengan PIL-nya. Maka tak ada kata lain kecuali: cerai!
Rumahtangga paling ideal memang harus sama-sama dalam satu rumah dan satu ranjang. Tapi karena kondisi ekonomi, banyak juga pasangan yang satu sama lain berjauhan. Ada yang seminggu sekali baru ketemu, sebulan, bahkan 6 bulan. Nah yang begini ini yang menjadi rawan perselingkuhan. Tak tahan berlama-lama “gencatan senjata”, banyak pasangan yang nembaki atau mau ditembaki pihak lain.
Pasangan Hasto – Nurul termasuk yang begini ini. Katanya suami istri, tapi domisilinya dipisahkan oleh jarak ribuan kilometer. Istri menjadi guru Pendidikan Usia Dini (PAUD) di   Ngadirojo, Wonogiri, sedangkan suami jualan bakso ting ting di Pekan Baru (Riau). Enam bulan sekali Hasto baru mampu pulang kampung, dalam rangka setor benggol dan bonggol. Di Wonogiri seminggu, balik lagi ke Pekan Baru dengan wajah ceria. Maklum, ibarat keris kan baru diwarangi dan dimandikan.
Hasto menerima dengan kondisi itu, tapi Nurul tidak demikian. Sering kesepian jauh dari suami, dia lalu terpikat dengan lelaki lain yang kemudian meningkat jadi PIL. Lelaki bernama Agus, 34, ini memang status sosialnya lebih bagus, jadi PNS yang ber-NIP, dengan golokan II-d. Sedangkan suaminya, pedagang bakso keliling, paling-paling golongannya Golongan Karya, itu pun kalau mau masuk partai.
Bersama Agus, memang semuanya bisa, termasuk bisa masuk hotel. Laki-laki bawa perempuan bukan muhrim masuk hotel mau apa lagi? Dan itulah yang terjadi. Di Pekan Baru suaminya jualan bakso, dia di hotel menikmati “bakso” Agus yang tanpa thethelan dan mie. Sungguhpun demikian Nurul menikmati dengan penuh penghayatan, hingga merem melek dan megap-megap, tapi bukan kepedesan.
Begitu lengketnya hubungan Nurul – Agus, sampai para orangtua murid PAUD itu tahu juga asmara maut keduanya. Tapi bisa apa, kecuali sekedar menyayangkan. Untuk menasihati, mereka kan bukan dalam posisi sebagai penasihat. Sebagai walimurid mereka juga tak mau dituduh suka campur tangan urusan orang.
Begitulah yang terjadi, sampai kemudian Hasto pulang dari Pekan Baru. Tapi tiba di rumahnya Ngadirojo, istri sedang tidak di rumah. Bukan karena sedang mengajar, tapi sedang jalan-jalan dengan  PIL-nya. Dan betapa kecewanya Hasto, ketika ketemu Nurul justru dia minta cerai. “Mas, aku pegaten wae, aku ora cocok dadi bojo sampeyan (ceraikan saja aku Mas, aku tak cocok jadi istrimu),” kata Nurul serius.
Sejak dari Pekan Baru Hasto sudah membayangkan ketemu istri bisa kangen-kangenan sepuas mungkin. Ternyata, istrinya sudah diserobot lelaki lain. Karena menyadari bahwa tak bisa membahagiakan istri, Hasto terpaksa menyetujui permintaan Nurul. Dia pun berjanji, besuk sama-sama ke Pengadilan Agama Wonogiri untuk pecah kongsi dan menghentikan koalisi selama ini.
Habis cerai, kawin dengan sinden, sini kan gudangnya. (SP/Gunarso TS)

Pak Kepsek `Mencoba` Guru Masa Percobaan


KASIHAN sungguh nasib Bu Guru Rustati, 37. Dia jadi guru statusnya masih honores alias masa percobaan. Tapi gara-gara cukup melek, akhirnya malah “dicoba” pula oleh atasanya yang Kepala SD. Celakanya, saat “uji coba” di hotel bersama Kepsek Suryadi, 53, eh terkena operasi Pekat.
Hingga kini masih ribuan guru honorer yang belum diangkat jadi PNS. Padahal banyak di antara mereka yang mengajar jadi “guru percobaan” atau honorer sudah puluhan tahun ibarat sampai jambul wanen. Tapi apa mau dikata. Meski anggaran Kemendiknas paling besar dari kementrian lain, sebagian besar memang sudah terkuras untuk menggaji guru dan dosen, termasuk tunjangan sertifikasi tentunya.
Salah satu guru honorer nan malang ini adalah Bu Guru Rustati, yang mengajar di sebuah SD Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten (Jateng). Sudah belasan tahun dia mengajar disitu, tetapi statusnya masih guru percobaan terus. Tapi karena dia senang berhadapan dengan anak didik, dia tak terlalu mempermasalahkan statusnya yang terus digantung, hanya menjadi guru Honda (Honor Daerah). Padahal kesempatan jadi PNS semakin kritis, mengingat usia maksimal jadi PNS hanya 40 tahun.
Adalah Pak Guru Suryadi, yang menjadi atasan Rustati di SD tersebut. Dia sangat kasihan pada nasib anak buahnya. Sehingga saking ibanya, wanita itu sering dapat tambahan uang ekstra dari Suryadi. Namun ternyata, uang tambahan itu bukannya cuma-cuma. Sebab Pak Guru diam-diam ada minat atas dirinya yang cukup cantik menjelang usia kepala 4. “Belum diangkat jadi PNS, tapi saya siap mengangkatmu ke atas ranjang,” begitu tekad Suryadi dalam hati. Begitu kotor memang.
Rupanya lama-lama Rustati menangkap gejala dan aspirasi urusan bawah atasannya itu. Karena di rumah juga sudah ada suami dan anak, mestinya dia tak menanggapi ajakan gila tersebut. Tapi lantaran dominasi syaiton demikian kuat,  dia tak mencoba menghindar saat Pak Guru Suryadi suka colak-colek atas dirinya. Prinsip Rustati mungkin, sepanjang jowal-jawil dan nggratilnya Pak Kepsek itu tidak dalam konsumsi publik atau dilihat orang, silakan saja.
Melihat sinyal-sinyal lampu hijau demikian kuat, Suryadi menjadi tambah berani. Beberapa hari lalu mereka jalan ke daerah Penggung Klaten Timur. Mereka pun kemudian masuk ke sebuah hotel kelas melati, dalam rangka “eksekusi” setelah sekian bulan menjalin koalisi non partai.
Bagaimana kisah di balik ranjang asmara itu, hanya menjadi rahasia mereka berdua. Yang jelas Suryadi tak menyesal mengeluarkan anggaran ekstra untuk “perburuan”-nya selama ini. Cuma ya itu tadi, ibaratnya orang makan baru cuci tangan, eh pintu kamar hotel digedor petugas Satpol PP dalam rangka Operasi Pekat (Penyakit Masyarakat). Tentu saja mereka belingsatan. Mengaku suami istri, tak punya surat nikah. Mau ngaku selingkuh, kok hina amat, Pak Guru dan Bu Guru kok bergendak ria di hotel.
Ketahuan bahwa keduanya oknum guru SD, kasus Rustati – Suryadi segera diserahkan ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Klaten. Sebagai anggota PGRI, sanksi mereka lumayan berat. Suryadi yang bakal pensiun 7 tahun lagi, naga-naganya bakal tidak terima uang pensiun lagi. Begitu juga Rustati, harapannya menjadi PNS dengan punya NIP sekian-sekian, bakal tinggal menggantung di awang-awang.
Padahal sudah kadung jebol punya gawang. (TN/Gunarso TS)

Panasnya Hati Istri Panasnya Wedang Jarang


ENAK jadi polisi, keluar tengah malam pun istri takkan mencurigai. Dan Bripda Ciptadi, 51, berhasil memanfaatkan situasi ini dengan aman. Padahal sebetulnya, dia kelayapan malam bukan mengejar penjahat, tapi kelonan dengan wanita. Celakanya, ketika ketahuan istri dia bukan menyesal, justru Haryani, 43, disiram dengan wedang jarang (air panas). Jelas sang istri mbanyaki………
Kejahatan itu tak mengenal jam kerja, kapan saja bisa terjadi. Karenanya polisi sebagai institusi pemberantas kejahatan, jam kerjanya juga 24 jam. Pagi mengejar penjahat, malam mengejar bramacorah, itu biasa. Maka bagi keluarga polisi, suami atau ayah mereka kelayapan tengah malam selalu memaklumi. Tentu saja ini polisi-polisi kelas bawah. Buat yang petingginya sih, tengah malam ya tidur, tinggal terima laporan.
Dengan pangkat Bripda, jelas Ciptadi masih tingkatan polisi kelas bawah. Karenanya dia termasuk polisi yang blusukan setiap malam. Cuma jika tak ada peristiwa kejahatan, sasaran blusukan Ciptadi lain lagi, ke warung ayu dekat Pasar Sayur, Magetan. Dia di sini bisa betah berlama-lama. Sambil nyeruput kopi luak dia bisa gojegan dengan pemilik warung, janda Giyanti, 35, yang memang cukup ayu kebul-kebul.
Gara-gara kecantol dengan sijanda pemilik warung, dia jadi semakin males pulang cepat-cepat ke rumah. Apa istri tidak ngarep-arep (menunggu)? Oh tidak, karena Ny. Haryani sangat memahami profesi suaminya. Berangkat magrib pulang adzan subuh, itu sudah hal biasa bagi Bripda Ciptadi yang bayangkara negara itu. Dan, kesadaran istri semacam itu dimanfaatkan –atau disalagunakan– dengan sebaik-baiknya oleh Bripda Haryono.
Ny. Haryani baru mencurigai suaminya manakala gaji dari kantor tak pernah lagi utuh sampai rumah. Alasannya macam-macam memang, ada potongan ini itu, sumbangan tetek yang bengek. Padahal sesungguhnya, sebagian uang itu digunakan untuk membiayai “blusukan”-nya tiap malam bersama janda Giyanti. Maklum, Ciptadi kan bukan polisi  Irjen Djokosusilo yang asetnya sampai Rp 42 M sejak ngurusi simulator SIM.
Fakta lain, ada juga informasi masuk bahwa suaminya punya WIL, janda pemilik warung dekat Pasar Sayur. Merujuk pada info tersebut, meski dirinya bukan anggota DPR Ny. Haryani segera melakukan studi banding ke warung itu. Tentu saka dia tak mengaku istrinya Bripda Ciptadi. Dia ke warung itu hanya pura-pura beli makanan apa. Tapi dari situ berhasil memperoleh data yang sesuai. Pemilik warung itu memang cantik, lebih muda lagi. “Pantesan suami jadi PLO (Polisi Lali Omah).” Gumam Haryani.
Malam harinya, seperti biasa Ciptadi tidak pulang. Kali ini tak lagi menganggap suaminye kajar penjahat, tapi sekedar cari nikmat. Maka diam-diam mendatangi warung itu. Ternyata benar. Di saat warung mulai sepi, tampak Ciptadi bergelayutan mesra di tubuh si janda montok. Keruan saja Haryani jadi mengkap-mengkap. “Pantesan betah ngelayap tiap malam, nggak tahunya punya gebedan di sini.” Omel Haryani tiba-tiba, membuat Bripda Ciptadi terkejut.
Tapi lelaki kan tak mau kalah, di mana saja. Bukannya menyesal, justru oknum polisi ini ambil gayung dan air panas dadi dandang segea disiramkan ke muka istrinya, byurrrrr! Tentu saja Ny. Haryani yang tak menduga seperti itu reaksi suami, tak bisa mengindar. Mukanya melonyoh, sehingga warga Kelurahan Kauman Magetan itu harus dilarikan ke rumahsakit. Kini Bripda Ciptadi jadi urusan kantor sendiri, gara-gara pelanggaran pasal KDRT.
Blusukan tiap malam, ternyata mblusuk dalam sarung. (DS/Gunarso TS)