upperads

Slider

Gambar tema oleh kelvinjay. Diberdayakan oleh Blogger.

POLITIKAL NEWS

Business

Technology

KRIMINALITAS

ANTI KORUPTOR

Sports

POROS KALTENG

Investor malaysia garap industri sawit di Kaltim

Metro Kajang Group, investor asal Malaysia, memberikan sinyal untuk masuk ke investasi industri hilir kelapa sawit di Kalimantan Timur (Kaltim).

"Dubes Malaysia tadi menyampaikan ada satu investor sawit di Kaltim yang bersedia untuk membuat processing plant sawit di sisi hilirnya, termasuk untuk pakan ternak. Nama perusahaannya Metro Kajang Group," kata Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, hari ini.

Perusahaan tersebut, telah 2 tahun beroperasi di Kaltim. "Kalimantan Timur merupakan salah satu daerah yang akan dikembangkan kluster industri berbasis sawit," sebutnya, dikutif dari situ Bisnis.com, kemaren.

Menurut Hidayat pihaknya mempersilahkan Metro Kajang untuk membuat proposal bisnis yang akan ditindaklanjuti oleh Dirjen Industri Berbasis Agro Kemenperin. "Tetapi syarat mutlak mereka harus ke hilir, pemerintah, saya nyatakan pasti akan mendukung dengan menyediakan insentif fiskal dan allowance."

Hanya saja, Hidayat mengingatkan, untuk permintaan penambahan lahan, Kemenperin tidak memiliki kewenangan untuk menangani. "Kami bisa koordinasi dengan Pemda dan Kementerian Pertanian."

Hidayat juga menjelaskan pemerintah tengah mempersiapkan beberapa kluster industri di berbagai daerah di luar Jawa. Dia mencontohkan industri nikel akan dipusatkan di Sulawesi, food estate di Papua, sedangkan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur akan menjadi pusat industri peternakan.

"Kami juga akan mengaitkannya dengan kawasan ekonomi khusus," katanya.

Enam Investor Kembalikan Dokumen Proyek KA 185 Km

Sebanyak enam dari 15 investor pembangunan proyek jalan kereta api Puruk Cahu-Bangkuang, Kalimantan Tengah sepanjang 185 kilometer (km) diakui mengembalikan dokumen ke pemerintah.

"Dari 15 investor yang mengambil dokumen, enam investor mengembalikan dokumen. Dari enam itu masih sisa empat investor," ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Syahrin Daulani, di Jakarta, dikutif dari situs Okezone.com, Kamis (4/11/2010).

Namun investor mana saja telah mengembalikan dokumen enggan dibeberkannya. Nanti katanya, akan mengumumkannya ketika memang sudah ada pemenangnya. Begitu juga dengan empat investor yang belum menyerahkan dokumen.

"Saya tidak mau sebut, nantilah kalau sudah jadi pemenang. Saya enggak enak menyebutnya. Yang jelas, investor itu satu lokal, sedangkan kelimanya asing. Negaranya saya tidak mau sebut," katanya.

Adapun proyek tersebut akan selesai pada 2014 dengan investasi sebesar USD2,2 miliar. Dia menambahkan, bila proyek ini nantinya akan ada rel kereta api yang menghubungkan Puruk Cahu-Bangkuang sepanjang 185 km.

"Nanti kalau tahap pertama bisa mengangkut 10 juta ton. Nanti empat sampai lima tahun ke depan bisa naik hingga 20 juta ton. Saat ini produksi batu bara Kalteng hanya sebesar dua juta ton. Sebenarnya bisa lebih lagi tapi karena masalah transportasi, sehingga hanya bisa memproduksi dua juta ton," tutupnya.

Laba BRI Kalahkan Mandiri & BCA

PT.BRI (Bank Rakyat Indonesia Tbk) mampu meraih laba setelah pajak sebesar Rp6,6 triliun selama sembilan bulan pertama 2010. Perolehan itu menjadikan BRI sebagai bank yang mencatatkan laba tertinggi di Indonesia dalam lima tahun terakhir.

Per 30 September 2010, laba BRI itu meningkat 25,56 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Bahkan, bila dibanding bank beraset terbesar di Indonesia, yakni PT Bank Mandiri Tbk, laba BRI masih lebih tinggi, termasuk mengalahkan laba BCA, bank terbesar ketiga di Indonesia.

Pada periode sama, Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp6,4 triliun. Perolehan laba Mandiri itu tumbuh 38,2 persen atau Rp1,8 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Sedangkan, BCA mampu meraup laba bersih sebesar Rp6,1 triliun atau tumbuh 20 persen dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar Rp5,09 triliun.

Direktur Operasional BRI, Sarwono Sudarto, seperti dikutif dari vivanews.com mengatakan, pertumbuhan laba perseroan di antaranya tertopang pada peningkatan penyaluran kredit di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Kredit di sektor itu mengontribusi pendapatan yang cukup besar dari bunga pinjaman. Pertumbuhan kredit di sektor UMKM itu mencapai 29 persen," jelasnya, dalam paparan kinerja BRI di Jakarta, Jumat 29 Oktober 2010.

Sementara itu, untuk mengantisipasi persaingan penyaluran kredit di sektor UMKM yang semakin ketat, BRI menerapkan beberapa strategi.

Selama setahun terakhir, sebanyak 1.116 kantor baru telah dimanfaatkan untuk kepentingan jaringan UMKM. Termasuk di antaranya dengan membuka 'teras' (kantor kas) yang tahun ini sekitar 400 unit.

"Tahun depan, teras yang dibuka lebih dari 1.000 unit. Teras BRI' dikembangkan di lingkungan pasar, khususnya pasar tradisional," timpalnya.

Hingga 2015, Sarwono menjelaskan, BRI akan terus mengembangkan outlet-outlet tersebut karena memiliki kontribusi yang cukup besar bagi kinerja perseroan. Kontribusi itu menyangkut pertumbuhan aset, dana pihak ketika (DPK), pembiayaan (lending), maupun peningkatan laba.

BRI Enggan Ikuti BI Soal Kepemilikan Tunggal

Manajemen PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menginginkan kebijakan kepemilikan tunggal (single presence policy) dikecualikan untuk bank-bank pemerintah.

Direktur BRI, Ahmad Baiquni, menjelaskan, sebenarnya ada tiga opsi yang ditawarkan Bank Indonesia (BI) terkait kebijakan yang akan mulai berlaku akhir 2010 ini.

Pertama, menjual sebagian kepemilikan dari pemegang saham pengendali. Kedua, melakukan penggabungan usaha atau merger, dan ketiga, membentuk induk usaha (holding) bank.

"Kami dimintai masukan pada waktu itu. Dan yang kami sampaikan adalah dampaknya minimal bagi perbankan," kata Baiquni di Jakarta, dikutif dari situs vivanews.com, kemaren.

Menurutnya, usulan BRI mengacu kondisi perbankan di negara-negara lain seperti China dan India. Di negara tersebut, bank pemerintah bisa memiliki lebih dari satu bank. Apalagi, kontribusi bank pemerintah cukup signifikan terhadap perekonomian suatu negara.

BRI diduga berkepentingan terkait aturan itu karena saat ini perseroan sedang mengincar satu bank lagi untuk diakuisisi. Setelah membeli PT Bank Agroniaga Tbk, BRI juga berencana membeli PT Bank Bukopin Tbk.

Terkait kebijakan BI yang akan memberlakukan kenaikan giro wajib minimum (GWM) sebesar tiga persen, Direktur Operasional BRI, Sarwono Sudarto mengatakan, pihaknya tidak akan mempengaruhi kinerja perseroan. Karena pihaknya memiliki likuiditas yang cukup bagus.

Sebelumnya dilaporkan, BI menaikkan rasio GWM primer dari lima menjadi delapan persen dana pihak ketiga (DPK) rupiah. Pemenuhan tambahan GWM primer tiga persen itu akan diberikan remunerasi sebesar 2,5 persen per tahun.

BI juga menetapkan ketentuan GWM berdasar loan to deposit ratio (LDR) dengan batas bawah 78 persen dan batas atas 100 persen.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 12/19/PBI/2010 mensyaratkan tambahan GWM terkait LDR itu mulai berlaku pada 1 Maret 2011. Sementara itu, GWM primer minimal delapan persen mulai berlaku pada 1 November 2010.

PT. Indocement Raih Laba Mencapai Rp2,3 Triliun

Pasar semen makin laris manis. Menyebabkan volume penjualan domestik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (berkode saham INTP) hingga kuartal III-2010 meningkat sebesar 13,5 persen menjadi 9,4 juta ton dari periode sama 2009 sebesar 8,3 juta ton.

Sedangkan pangsa pasar perseroan meningkat 31,1 persen dibandingkan periode sama 2009 yang sebesar 29,7 persen.

Dani Handayani, sekretaris perusahaan Indocement, seperti dikutif dari vivanews.com mengatakan, kenaikan pangsa pasar itu didukung kelebihan kapasitas yang saat ini dimiliki perseroan.

Apalagi, Indocement merupakan satu-satunya produsen semen di Indonesia yang mengalami kelebihan kapasitas cukup signifikan dan mampu memenuhi pertumbuhan pasar domestik yang tinggi.

"Sedangkan penjualan ekspor klinker lebih rendah 30,7 persen menjadi 0,82 juta ton dari tahun lalu yang mencapai 1,18 juta ton. Penurunan ini karena perseroan fokus pada permintaan domestik yang tinggi," kata dia dalam publikasi laporan keuangan perseroan di Jakarta, kemaren.

Sementara itu, total volume penjualan perusahaan semen tersebut hingga kuartal III-2010 mencapai 10,2 juta ton atau lebih tinggi 8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebanyak 9,5 juta ton.

Kinerja Indocement per akhir September 2010 itu juga semakin kokoh, baik dari sisi penjualan maupun laba bersih dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pendapatan bersih Indocement naik 9,2 persen menjadi Rp8,11 triliun dari periode sama 2009 sebesar Rp7,42 triliun. Marjin laba kotor juga menggelembung 50,5 persen dari 47,7 persen atau sebesar Rp4,09 triliun dari tahun lalu Rp3,54 triliun.

Namun, beban usaha juga naik sekitar 13,2 persen menjadi Rp1,12 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya Rp989 miliar. Hal itu dipicu kenaikan biaya logistik, mengikuti kenaikan volume penjualan dan meningkatnya penjualan di luar Jawa.

Kendati demikian, laba usaha meningkat 16,7 persen menjadi Rp2,97 triliun dari 2009 yang membukukan Rp2,55 triliun. Sedangkan marjin laba usaha naik dari 34,3 persen menjadi 36,7 persen.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga melonjak 16,1 persen menjadi Rp3,44 triliun dari periode sama tahun lalu Rp2,96 triliun. "Laba bersih yang kita raih menjadi naik 27,5 persen dari Rp1,87 triliun menjadi Rp2,38 triliun," timpalnya.

Akibat Beban Meningkat, Laba Indosat Terpangkas

Seperti halnya PT Telekomunikasi Indonesia Tbk yang mencatat penurunan laba, PT Indosat Tbk juga membukukan keuntungan yang kurang menggembirakan.

Laba Indosat selama sembilan bulan pertama 2010 tergerus 63,4 persen dari Rp1,44 triliun menjadi Rp530,9 miliar. Penurunan laba itu di antaranya dipicu meningkatnya beban lain-lain yang mencapai Rp1,68 triliun.

Beban lain-lain itu meningkat 254 persen dibanding periode sama 2009 yang hanya Rp476,9 miliar. Meski demikian, pendapatan usaha mampu tumbuh 8,1 persen menjadi Rp14,8 triliun dibanding per 30 September 2009 senilai Rp13,7 triliun.

"Laba turun karena pergerakan di pasar valuta asing, kenaikan beban pendanaan, dan beban depresiasi serta amortisasi," kata Direktur Utama dan Chief Executive Officer (CEO) Indosat, Harry Sasongko, dalam publikasi laporan keuangan perseroan di Jakarta, seperti dikutif dari vivanews.com, Senin (01/11/2010) dini hari.

Meski laba tergerus, Indosat mampu membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp7,12 triliun atau naik 12,6 persen dari periode sama 2009 senilai Rp6,32 triliun.

Sementara itu, total utang perseroan selama periode itu juga meningkat 11,8 persen dari Rp24,4 triliun menjadi Rp27,3 triliun. Per 30 September 2010, pelanggan selular Indosat mencapai 39,7 juta pelanggan atau naik 40,9 persen dibanding periode sama 2009 sebanyak 28,2 juta pelanggan.

Menurut Harry, selama kuartal III-2010, bisnis selular Indosat tumbuh sebesar 6,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, atau meningkat 16,6 persen dibanding periode sama tahun lalu.

"Kami juga menyelesaikan program pendanaan ulang pada triwulan ketiga melalui penerbitan obligasi dalam mata uang dolar AS sebesar US$650 juta dengan bunga 7,37 persen berjangka waktu 10 tahun," pungkasnya.

Karena Biaya Tambang Bengkak, Laba PT.Adaro Menurun

Kenaikan biaya penambangan yang disebabkan oleh peningkatan nisbah kupas dan jarak angkut lapisan penutup yang lebih jauh, memicu peningkatan beban pokok pendapatan PT Adaro Energy Tbk sebesar 22 persen.

Kondisi itu menyebabkan laba operasi Adaro menurun 16 persen menjadi US$593 juta selama sembilan bulan pertama 2010. Akibatnya, laba bersih juga terkikis 43 persen menjadi US$186 juta, atau turun 52 persen menjadi Rp1,69 triliun dibanding periode sama 2009 senilai Rp3,51 triliun.

Sementara itu, laba bersih per saham turun menjadi Rp53 dari sebelumnya Rp109,9.

"Tahun ini cukup menyulitkan bagi perseroan karena curah hujan yang abnormal. Namun, prospek jangka panjang perseroan diklaim lebih baik dibanding sebelumnya," kata Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir, dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutif dari vivanews.com, Senin (01/11/2010) dini hari.

Namun, Garibaldi mengklaim dapat mempertahankan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) sebesar US$701 juta dan margin yang lebih tinggi dibanding rata-rata industri sebesar 35 persen.

Sedangkan pendapatan usaha konsolidasi selama periode tersebut meningkat enam persen hingga US$1,98 miliar, karena pertumbuhan produksi sebesar 12 persen. Walau demikian, pencapaian harga jual rata-rata turun tujuh persen.

Volume produksi dan penjualan Adaro Energy pada periode sembilan bulan 2010 masing-masing meningkat 12 persen menjadi 31,84 juta ton dan 32,36 juta ton.

Selanjutnya, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,45 kali dan akses kas US$1,2 miliar, kebijakan keuangan Adaro yang dijalankan secara hati-hati menghasilkan struktur permodalan yang diklaim kuat dan memberikan akses positif di pasar modal.

Adaro juga berkomitmen untuk melanjutkan pertumbuhan tahunan secara organik dan meningkatkan efisiensi rantal pasokan batu bara yang terintegrasi secara vertikal.

Upaya itu dimungkinkan meliputi integrasi ke hilir dengan merambah segmen pembangkit listrik. Selain itu, perseroan akan mengakuisisi atau berinvestasi pada cadangan batu bara yang berskala besar dan berkualitas tinggi di Indonesia.

Plafon nilai kasus mediasi perbankan akan dinaikkan maksimal Rp2 miliar

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) akan menaikkan plafon nilai kasus mediasi perbankan menjadi maksimal Rp2 miliar dari semula Rp500 juta. Nilai tersebut akan disesuaikan dengan tingkat penjaminan wajar Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).

Purwantari Budiman, Direktur Direktorat Investigasi dan Mediasi Perbankan BI, mengutarakan saat ini fasilitas mediasi bagi pengaduan nasabah terhadap bank masih terbatas di bawah Rp500 juta.

Namun, sambungnya, seiring dengan perkembangan industri perbankan dan tingkat pengaduan nasabah, tengah dikaji untuk meningkatkannya menjadi Rp2 miliar.

"Kami akan mengikuti penjaminan oleh LPS. Karena jika kita lihat awalnya, mediasi BI ini dikhususkan kepada nasabah UKM, tetapi belakangan justru sudah meningkat kemampuannya, sehingga kami akan mengkaji proses mediasi dengan dana mencapai Rp1 miliar hingga Rp2 miliar," ujarnya tadi malam.

Mediasi yang difasilitasi Bank Indonesia ini tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) nomor 10/1/2008 tentang Mediasi Perbankan, di mana menjelaskan mengenai penyelesaian sengketa perbankan dengan cara yang sederhana, murah, dan cepat untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada bank.

Selain itu, hasil mediasi yang merupakan kesepakatan antara nasabah dan bank dipandang merupakan bentuk penyelesaian permasalahan yang efektif karena kepentingan nasabah maupun reputasi bank bisa dijaga. sumber : bisnis.com